Pteridophyta (Tumbuhan Paku)

oleh -75 views
Sumber: britannica.com
Hosting Unlimited Indonesia

Tumbuhan paku yang sering kamu lihat merupakan generasi sporofit.

Ciri-Ciri

Tumbuhan paku memiliki sistem pembuluh untuk mengangkut air dan mineral. Tumbuhan paku telah memiliki organ sejati, yaitu akar (tipe serabut), batang, dan daun. Ada 4 macam daun, yaitu mikorofil (berukuran kecil), makrofil (berukuran besar), sporofil (menghasilkan spora), dan tropofil (untuk berfotosintesis). Biasanya, di permukaan bawah sporofil terdapat sorus, yaitu badan penghasil kotak spora (sporangium). Sorus muda berwarna kuning dan dilindungi oleh suatu selaput, yaitu indusium.

Generasi sporofit tumbuhan paku lebih dominan daripada generasi gametofit. Namun demikian, masing-masing generasi tidak saling bergantung dalam memperoleh nutrisi. Generasi sporofit beberapa tumbuhan paku, seperti paku sarang burung (Asplenium nidus) memiliki rizom, yaitu batang yang menjalar di bawah permukaan tanah.

Cara Reproduksi

Tumbuhan paku bereproduksi secara aseksual dan seksual. Reproduksi aseksual dimulai ketika tumbuhan paku muda tumbuh dewasa dan menghasilkan tipe daun sprofil. Pada permukaan bawah dan sporofil terdapat sporangium yang dapat memancarkan spora jika telah matang.

Reproduksi seksual terjadi setelah spora yang terlontar keluar dan jatuh ke tanah lembap sehingga berkecambah menjadi protalium. Protalium merupakan generasi gametofit tumbuhan paku yang akan menghasilkan anteridium dan ivum yang dihasilkan arkegonium akan melebur hingga membentuk zigot. Selanjutnya, zigot tumbuh dan berkembang menjadi tumbuhan paku dewasa (generasi sporofit).

Berdasarkan jenis sporanya, tumbuhan paku dibedakan menjadi tumbuhan paku homospora, tumbuhan paku heterospora, dan peralihan. Tumbuhan paku homospora (isospora), misalnya paku kawat (Lycopodium) dan paku purba (Psilotum nodum). Tumbuhan paku heterospora, misalnya paku rane (Saleginella) dan semanggi (Marsilea crenata). Tumbuhan paku peralihan (menghasilkan spora jantan dan betina dengan bentuk dan ukuran yang sama), misalnya paku ekor kuda (Equisetum debile).

Klasifikasi

Pteridophyta diklasifikasikan dalam 4 divisi, yaitu Psilotophyta, Lycopodophyta, Equisetophyta, dan Pterophyta.

  1. Divisi Psilotophyta, misalnya Psilotum, tumbuhan tersebut merupakan tumbuhan purba yang sudah hampir punah.
  2. Divisi Lycopodophyta telah memiliki akar, batang, dan daun sejati. Sporangiumnya berkumpul membentuk strobilus. Contohnya, paku kawat (Lycopodium, bermanfaat sebagai bahan obat batuk dan kulit) dan paku rane (Selaginella, sebagai tanaman hias).
  3. Divisi Equisetophyta memiliki daun bersisik yang tersusun melingkat pada setiap ruas batangnya. Pada bagian ujung batangnya terdapat sporangium yang berbentuk stobilus berwarna kekuning-kuningan. Contohnya, paku ekor kuda (Equisetum; bermanfaat sebagai obat gosok dan analgesik).
  4. Divisi Pterophyta merupakan divisi tumbuhan paku yang terbesar; makrofilnya memiliki tulang dan daging daun; ukuran tubuh yang bervariasi. Contohnya suplir (Adiantum) dan paku sarang burung (Asplenium nidus) yang dimanfaatkan sebagai tanaman hias; paku air Azolla pinnata (berguna sebagai pupuk karena bersimbiosis dengan sianobakteri Anabaena azollae untuk mengikat N2 bebas dari udara); semanggi (Marsilea crenata) dan paku tiang (Alsophila glauca) yang daunnya dimanfaatkan sebagai bahan sayuran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *